Negara Bencana

30 07 2008

 

Kebakaran adalah bencana penuh dengan kepentingan Politik dan ketidakadilan sosial, kenapa? Karena suatu tempat permukiman padat akan dikuasai oleh para pengusaha yang dilindungi oleh pemerintah untuk mengembangkan usaha mereka tanpa peduli meskipun harus megusir yang punya tanah.

Rumah kami dibakar dibumi hanguskan tanpa ampun sijago merah melalap semua pemukiman warga miskin terutama, kenapa kebakaran itu harus terjadi dilingkungan masyarakat miskin? Seeharusnya Negara memahami apa yang benar-benar menjadi masalah rakyat bukannya melindungi para pengusaha yang jelas-jelas menjerat rakayat tanpa ampun. Negara macam apa seperti ini kalau rakyatnya hanya untuk dibunuhi dengan cara yang tersistematis. Kekuatan militer digunakan untuk mengahadang perlawanan kami terhadap para pengusaha yang menjajah tanah kami, perlu diketahui sekarang ini rakyat berada dibawah tekanan Negara dan para pengusaha yang benar-benar mencari keutungan diatas penderitaan rakyat, pergerakan pun dirasakan semakin harus dibawah tanah karena sekarang setiap langkah diawasi oleh pengintai-pengintai Negara, kami bukan robot kami adalah manusia sdan tidak kalian selalu melanggar kemerdekaan kami, ingin rasanya aku pindah kenegara lain tapi ini bumu pertiwi yang melahirkan aku, hanya pemimpinnya saja yang perlu diganti. Setiap bencana dibuat agar Negara punya kerjaan selain kerjaan menghapus kemiskinan, menaikan pamornya dimasyarakat luas padahal tetap saja kita akan berada diketimpangan yang menjatuhkan kita sebagai rakyat, pendidikanpun kami kesulitan untuk mensekolahkan anak-anak kami, karena pendidikan dibuat menjadi lading bisnis para pengusaha bukan lagi sebagai tempat menuntut ilmu, rakyat akhirnya berontak melalui alam bawah sadarnya, sebagian menjadi pembunuh, perampok, pencuri karena memang kita diajarkan oleh Negara kita untuk melakukan itu. Negara ini adalah Negara bencana yang harus segera diperbaiki para pemimpinnya.





Kegelapan…

29 07 2008

Langkah-langkah menuju penerangan menjadi gelap gulita, perjalanan menjadi semakin terasa berat ketika semua seperti menghilang dari pandangan mata, kenapa negara yang penuh maaf namun ada hukuman mati untuk seorang manusia lainnya, kenapa harus negara yang lakukannya?? apakah memang negara kita sudah tidak mengahrgai kehidupan seorang manusia lainnya? perlu dingat seseorang menjadi pelaku pembunuhan yang kejam pasti ada alasannya, namun negara yang membunuh seseorang tak ada satupun alasan. Negara ini menjadi semakin gelap, jalannya hanya menuju jurang kehancuran, jurang yang membunuh jutaan rakyat, pemimpin yang membawa kedalam neraka jahanam. Keadilan sosial jelas membuat seseorang menjadi pelaku pembunuh, kesejahretaanlah yang membuat seseorang menjadi cinta damai. Disini terasa gelap…





Konferensi Demokrasi Indonesia di Bawah Tirani Modal

29 07 2008

LATAR BELAKANG

Walaupun belum dapat diprediksi dengan cukup lapang dan pasti kehidupan
ekonomi politik masyarakat Indonesia dalam dua tiga tahun ke depan berpotensi
mengalami kemerosotan. Bukan berarti yang sekarang lebih baik dari perkembangan
yang sebelumnya, tetapi korelasi di antara proses demokrasi dan pengembangan
ekonomi yang berjalan selama 10 tahun reformasi selalu berpadu ke arah
yang gagal. Kalaupun memang demikian kenyataannya, di dalam berbagai diskusi
tentang problem-problem ekonomi politik Indonesia sudah muncul ide-ide untuk
melihat pengaruh globalisasi sebagai pendukung kehancuran ekonomi Indonesia.
Dan globalisasi juga memberikan kontribusi terhadap pengembangan struktur
politik di masa paska Orde Baru melalui Pemilu 1999. Menariknya kemudian seluruh
perangkat politik dan perangkat pemerintahan mengalami kelumpuhan di
dalam menghadapi akibat dari globalisasi. Kemiskinan, kelaparan dan pengangguran
dari hari ke hari berkembang kian menguat di tengah masyarakat seiring
dengan merosotnya nilai riil pendapatan mereka di bawah aura deprivasi nilainilai
kehidupan.

Dihadapkan pada persepsi dan kenyataan seperti itu, tentu pertanyaan terbesar
yang harus dijawab saat ini adalah apa sesunguhnya yang menganjal dalam demokrasi
Indonesia? Ini masalah yang coba dijawab pada tahun 2005 ELSAM bersama
PusDep-Universitas Sanata Dharma dan Institut Sejarah Sosial Indonesia
(ISSI) dengan mengelar satu Konferensi untuk mengenali permasalahan yang
dihadapi demokrasi Indonesia dengan menelaah akar-akar otoritarian yang diwariskan
oleh sistem otoriter Orde Baru. Ini dengan pengandaian bahwa otoritarianisme
lah sumber dari segala kemandegan proses demokrasi yang ada di masa
reformasi.

Namun setelah dua tahun dari konferensi itu, sepertinya warisan otoritarian tidak
lagi memadai untuk menjelaskan loyonya perangkat politik dan pemerintah dalam
menjalankan demokrasi. Cara pandang yang menilai tersendatnya demokrasi
disebabkan oleh warisan otoritarian semata tidak mampu menjawab masalahmasalah
kekinian yang tidak bisa langsung dilihat hubungannya dengan masa
lalu. Artinya, perlu penggeledahan dan konfrontasi analisis yang jauh lebih dalam
mengenai cara melihat dan memahami kenyataan-kenyataan dan persepsi yang
berkembang sekarang ini, melalui pemahaman yang lebih komprehensif terhadap
relasi-relasi modal dan kekuatan-kekuatan politik. Persoalan-persoalan relasi sosial
semacam inilah yang membentuk struktur kekuatan dan kekuasaan modal di
berbagai bidang kehidupan. Pertanyaan intinya adalah aspek-aspek penting apa
yang membuat tirani menjadi seperti ‘way of life’ dalam demokrasi Indonesia dewasa
ini?

PERMASALAHAN

Untuk bisa melihat adanya keterkaitan antara warisan otoritarian dan selubung
demokrasi konsep tirani adalah konsep yang paling tepat. Maka dari itu tema besar
yang hendak diusung dalam konfrensi kali ini adalah “Demokrasi Indonesia
di Bawah Tirani Modal”. Persoalan Tirani Modal inilah yang absen dari perbincangan
selama reformasi berjalan sedari 1998, sehingga persoalan kekuasaan
modal tidak pernah ditantang dan dibicarakan. Apa lagi mengeledah hubungan
antar otoriterian dengan modal serta demokrasi dengan modal secara lebih rinci.
Menjelang 10 tahun reformasi, aspek modal ini harus menjadi perhatian utama
dalam menilai kualitas kehidupan demokrasi dan mutu dari perangkat politik dan
negara di Indonesia.

Kekuasaan Modal yang dimaksud di sini tidak terbatas hanya pada soal modal
dalam pengertian ekonomi semata atau kekuasaan bisnis yang terlalu besar. Ini
berkait juga dengan persoalan, reproduksi kekerasan, kemiskinan, pendidikan,
kesehatan, dan hal lain yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Artinya,
modal dalam pengertian relasi-relasi sosial yang membentuk struktur kekuatan
dan kekuasaannya.

Sejalan dengan itu, tema Demokrasi Indonesia di Bawah Tirani Modal tersebut
akan diperbincangkan dalam beberapa sub-tema. Sub-tema tersebut diantaranya
adalah:

TIRANI MODAL DAN PELURUHAN KEDAULATAN RAKYAT

Apa sekolah dan pengobatan alternatif bentuk kekayaan kedaulatan rakyat atau
karena pemerintah tidak mampu menjamin kesehatan dan pendidikan? Apaan
sih kerjanya partai partai politik, parlemen dan pemerintah?

TIRANI MODAL DAN PELUMPUHAN KETAHANAN EKONOMI

Kemarin beras naik, sekarang tempe, besok apalagi? Kok bisa ya punya ladang
minyak tapi musti beli minyak? Kok bisa ya punya banyak penduduk tapi sedikit
lapangan kerja?

TIRANI MODAL DAN PELUMPUHAN DAYA KREATIF

Kesenian, kapan menjadi hak dasar masyarakat? Media massa memang tidak
lagi dibredel tapi diserang. Apa jadinya kalau penikmat dangdut tidak lagi boleh
goyang?

TIRANI MODAL DAN PELUMPUHAN MODAL SOSIAL

Seberapa Indonesiakah kita? Sebetulnya apa sih bangsa Indonesia itu? Ataukah
kita sudah diasingkan dari Indonesia sejak dalam kandungan?

TIRANI MODAL DAN PELUMPUHAN KEAMANAN MANUSIA

Apakah esok hari kita lebih yakin bahwa hidup di Indonesia bebas dari segala
macam rasa takut? Kata pemeo rakyat “Kesehatan emang gratis, Penyakitan
yang nggak gratis”

PENDEKATAN

Dalam konferensi ini ada beberapa pendekatan yang bisa dipergunakan un

tuk menelaah persoalan-persoalan yang terungkap di muka. Apakah itu melalui
metode genealogis, metode dialektika basis dan suprastruktur, maupun metode
retrospektif. Tujuannya untuk melihat masa lalu secara strategis untuk menjelaskan
masa sekarang. Artinya bagaimana warisan otoritarian diproduksi dan direproduksi
di dalam kesadaran masyarakat. Selain itu diperlukan juga pendekatan
untuk menggali ingatan maupun kenangan masyarakat akan kejadian di masa lalu
agar dapat membangun pengetahuan baru tentang Indonesia.

Pertanyaan-pertanyaan besar yang diharapkan bisa dijawab ketika menggunakan
ketiga metode tersebut adalah; mengapa setelah Orde Baru luruh demokrasi yang
berkeadilan tetap tidak bisa berjalan? Apa ide yang dikandung oleh demokrasi itu
sendiri di Indonesia saat ini? Bagaimana proses kerja demokrasi pada saat ini?
Apakah demokrasi bisa terlaksana di tengah budaya politik yang tidak berubah
dari masa lalu? Apakah Indonesia dapat berkembang sebagai sebuah negeri yang
demokratis dan berkeadilan sosial di dalam alam fundamentalisme pasar?

TUJUAN KONFERENSI
Adapun yang menjadi tujuan konferensi ini adalah:

membicarakan, merumuskan, menyimpulkan langkah perlawanan terhadap tirani
modal, sebagai bagian dari usaha membangun gerakan di kalangan akademik dengan
prasyarat pembangunan organisasi-organisasi komunitas.

memberi gambaran politik tentang kerja modal dalam berbagai bidang kehidupan
dan atau mekanisme kerja modal sebagai kekuatan politik

memberikan ancangan pemikiran bagi perumusan kebijakan publik yang berpihak
pada masyarakat.

PENYELENGGARAAN
Konferensi Demokrasi Indonesia di Bawah Tirani Modal ini akan diselenggarakan
pada tanggal 5-7 Agustus 2008, bertempat di Jakarta.

Konferensi ini akan dimulai dengan sebuah seminar umum membahas tema besar
“Demokrasi Indonesia di Bawah Tirani Modal” melalui pendekatan lima subtema
tersebut di atas sebagai pengantar peserta konferensi untuk memahami dan
menganalisa permasalahan lebih lanjut, kemudian akan diselenggarakan panel-
panel lokakarya berbasis pada pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam lima
sub tema di atas. Di akhir konferensi akan diadakan sesi pleno (plennary session)
untuk menghasilkan simpulan dan rekomendasi dari konferensi.

Format penyelenggaraan tiap-tiap panel lokakarya ditentukan oleh masing-masing
penanggung jawab panel, tidak terbatas pada format diskusi ataupun lokakarya
konvensional. Adapun 12 panel lokakarya yang akan diselenggarakan, yaitu:
Islam dan Fundamentalisme Pasar (penanggung jawab panel: PSIK Paramadina)
Tentang gejolak sosial keagamaan di tengah perkembangan globalisasi dan gerakan-
gerakan berbasis identitas primordial dan komunalisme.
e-mail: deni_psik@yahoo.com

Hak Asasi Manusia dan Perburuhan (PJ: TURC)
Potret baru perburuhan Indonesia di tengah tekanan neoliberalisme, tidak terbatas
pada masalah yang ditimbulkan oleh kebijakan penanaman modal saja.
e-mail: surya@turc.or.id
Inisiatif Perlawanan Lokal (PJ: ISSI dan Praxis)
Kekayaan inisiatif masyarakat di dalam menghadapi problem-problem perkembangan
reform sosial, ekonomi, politik dan budaya.
e-mail: hilmar_farid@yahoo.de
Etika Politik: Kekerasan dan Rekonsiliasi (PJ: PuSDEP Universitas Sanata
Dharma)
Perkembangan wawasan dan orientasi politik masyarakat maupun tokoh tokoh
publik di dalam menyikapi persoalan persoalan politik praktis.
e-mail: patria_nusatama@yahoo.com

Demokrasi dan Peluruhan Kedaulatan Rakyat (PJ: Puskapol UI)
Tentang hilangnya esensi demokrasi yang sebenarnya karena tertutup oleh
pendekatan demokrasi prosedural formal
e-mail: ayu_slw@yahoo.com

Kebudayaan dan Pengekangan Daya Kreasi (PJ: Dimas Jayaprana)
Tentang kebebasan berekspresi budaya masyarakat di tengah dominasi kekuatan
modal atas proses berkesenian.
e-mail: hard2refuse@yahoo.com
Hukum dan Ekonomi (PJ: ELSAM dan INFID)
Tentang penyingkiran kepentingan publik di dalam proses proses perumusan kebijakan
negara yang lebih mengabdi pada kepentingan pemilik modal.
e-mail: indrids@gmail.com
Gerakan Perlawanan Perempuan Lokal (PJ: Ruth Indiah Rahayu)
Tentang kesadaran perempuan dalam politik reproduksi sosial, khususnya di level
komunitas atau di tingkat lokal.
e-mail: pudakwangiku@yahoo.id
Media Massa dan Reproduksi Ideologi ( PJ: Ignatius Haryanto)
Peran media massa di dalam menentukan arah perkembangan kesadaran publik
dalam menyikapi kondisi ekonomi sosial dan politik di Indonesia.
e-mail: ignh@yahoo.com

Privatisasi Pendidikan (PJ: Darmningtyas )
Tentang penetrasi gagasan-gagasan neoliberalisme melalui institusi pendidikan.
Tidak terbatas pada kebijakan privatisasi lembaga-lembaga pendidikan semata.
e-mail: darmaningtyas@yahoo.com
Reforma Agraria (PJ: KARSA )
Perumusan kembali persoalan-persoalan monopoli atas tanah untuk kepentingan
bisnis dalam konteks neoliberalisme.
e-mail: windayanti9@yahoo.com

Reformasi Sektor Pertahanan/Keamanan (PJ: ISPDS dan ResPublika)
Tentang stagnasi proses reformasi TNI dan Polri, khususnya berkaitan dengan
perubahan peran mereka dalam penyelenggaraan negara dan administrasi
pemerintahan.
e-mail: budiman.repdem@yahoo.com

CALL FOR PAPERS AND WORK
Untuk itu kami mengundang segenap civitas akademika dan para pemerhati masalah
masalah sosial, ekonomi, dan politik untuk berpartisipasi dan berlibat dalam
konferensi ini dengan mempresentasikan ide-ide, gagasan maupun pengalaman
dalam bentuk karya tulis sepanjang 5.000-10.000 kata, maupun karya seni (fi lm,
tari, instalasi, musik, dll)

Abstraksi dari karya tulis (maksimal 1.000 karakter) dan karya seni diserahkan paling
lambat tanggal 25 April 2008, dialamatkan langsung ke penanggung jawab ma-
sing-masing panel lokakarya (jika sudah menentukan akan berpartisipasi di panel
lokakarya tertentu), dan di cc ke siparaf@gmail.com

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)
Jl. Siaga II no.31 Pejaten Barat
Jakarta Selatan 12510

Telp. (021) 7972662, 79192564
Facs. (021) 79192519, 7996681
Email: rini@elsam.or.id

Panitia penyelenggara kemudian akan menyeleksi abstraksi karya tulis dan karya
seni yang masuk, dan akan mengumumkan hasilnya pada tanggal 6 Mei 2008.

Penyumbang karya tulis dan karya seni diharapkan telah menyelesaikan karyanya
pada tanggal 25 Juli 2008, untuk kemudian dengan dibantu panitia penyelenggara
menyiapkan presentasi karya-karya tersebut dalam konferensi.

PESERTA KONFERENSI

Konferensi ini diarahkan pada kelompok-kelompok intelektual atau kaum muda di
berbagai bidang, khususnya kalangan intelektual sosial yang bekerja di organisa

si-organisasi non pemerintah dan lembaga-lembaga akademik, serta para penggiat
seni dan seniman mandiri di berbagai komunitas.

Peserta konferensi, baik dari kalangan umum maupun akademisi akan diberikan
sertifikat. Biaya sertifikasi bagi pelajar dan mahasiswa adalah Rp. 50.000,- dan
bagi kalangan umum dan pengajar perguruan tinggi ini adalah Rp. 150.000,
PENYELENGGARA DAN PENDUKUNG
Lembaga-lembaga yang menjadi penyelenggara utama dalam pelaksanaan kegiatan
ini yaitu:

-Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)
-Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina
-Pusat Studi Sejarah dan Etika Politik (PuSDEP) Universitas Sanata Dharma
-Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI)
-Pusat Kajian Politik (Puskapol) FISIP Universitas Indonesia
-International NGO Forum for Indonesia Development (INFID)
- Trade Union Research Center (TURC)
-Perkumpulan Praxis
Didukung oleh lembaga-lembaga dan individu yang menjadi penanggung jawab
panel lokakarya
Sekretariat:

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)
Jl. Siaga 2 no.31 Pejaten Barat
Jakarta Selatan 12510
Telp. (021) 7972662, 79192564
Facs. (021) 79192519, 7996681
Email: rini@elsam.or.id





Terlalu Dalam Rasanya…

28 07 2008

Ketika semuanya telah hilang dari kehidupan…hanya jiwa yang hampa yang masih hidup tanpa nafas, namun jiwa ini masih terus tertekan tanpa adanya peluang dan kesempatan untuk merubah menjadi hidup yang lebih berarti bagi dirinya sendiri dan dunia. memang sudah dasarnya sifat kita manusia yang kejam tanpa ampun sahabat dan saudara-saudari kitapun disingkirkan. semua sepertinya mengejar kekeuasaan yang tiada henti-hentinya, perlu diketahui terlalu dalam rasanya ketika kita menjadi salah, lalu kita dibuang dan tidak dilibatkan kembali didalam suatu perjuangan seperti sampah yang dikelilingi para lalat memakan kekotoran kita untuk kepentingannya. ini adalah kemanusiaan bukan lagi kekuasaan yang harus kita raih melainkan kepemimpinan yang bisa mengakomodir kami dari sistem yang selalu membuat kami terjatuh, namun kenapa ketika kendaraan ini sudah ada pilotnya tidak menggerakkannya kearah sistem yang seharusnya kekuatan politis bagi kaum marjinal seperti kita. semua harus berubah dan jangan semakin memperdalam sistem yang sudah membunuh rakyat miskin seperti kami, dimana kesempatam untuk kami? kami ingin meraih apa yang seharusnya menjadi hak-hak kami, karena kami semua ingin sejahtera bukan lagi menjadi pengkhianat diantara kami yang memang pecundang menjalankan pergerakan ini. Terlalu dalam rasanya bila aku terus merasakannya dan dibuat terus terpuruk oleh sistem yang jelas-jelas membunuh, walau sendiri tanpa kendaraan apapun aku akan tetap memperjuangkan apa yang telah menjadi cita-cita kami bersama!!!





Pengangguran Berat…!!

25 07 2008

Sulitnya mencari nafkah dinegeri sendiri, biaya hidup semakin tinggi ketidakadilan sosialpun semakin merajarela, entah kenapa negeri ini rasanya penuh dengan konspirasi yang mengatasnamakan demokrasi namun kami sebagai rakyat selalu menjadi korban dari konspirasi tersebut, bahkan untuk mendapatkan kebutuhan dasar saja kami tidak bisa memenuhinya, kenapa begitu sulit ya? mencari kerja di negara sendiri layaknnya mencari jarum ditumpukan jerami, seandainya dapat kami pasti tertusuk benda tajam tersebut, kemiskinan dimana-dimana, korupsi bebas berkeliaran, dimana hati nuranimu pejabat? apakah kau tak melihat pembunuhan terjadi dimana-dimana, karena kalianpun mencontohkan dengan pembunuhan yang berencana namun tak terlihat, itulah dampak yang kau pimpin, unjuk rasa menuntut hak-haknya, tapi kau selalu mengahadang kami dengan tentaramu bahkan kau membunuh sahabat-sahabat kami didepan publik dan itu tak pernah kau akui…!!








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.